Tutorial ini membahas Simple Exponential Smoothing (SES) dan contoh perhitungannya untuk melakukan forecasting atau peramalan data deret waktu. Contoh yang digunakan adalah peramalan penjualan bulanan.
Perhitungan dilakukan mulai dari menentukan nilai alpha, menghitung forecast setiap periode, menghitung error, hingga memperoleh prediksi untuk periode berikutnya.
Daftar Isi
- Pengertian Simple Exponential Smoothing
- Rumus Simple Exponential Smoothing
- #01 Data Aktual
- #02 Menentukan Nilai Alpha
- #03 Menentukan Forecast Awal
- #04 Menghitung Forecast Setiap Periode
- #05 Menghitung Error
- #06 Menghitung MAE, MSE, dan MAPE
- #07 Forecast Periode Berikutnya
- Ringkasan
- FAQ SES
- Referensi
- Source Code Forecasting
Pengertian Simple Exponential Smoothing
Simple Exponential Smoothing atau SES adalah metode forecasting yang memberikan bobot lebih besar pada data terbaru dan bobot yang semakin kecil pada data lama.
SES cocok digunakan untuk data deret waktu yang relatif stabil dan tidak memiliki pola tren atau musiman yang kuat.
Rumus Simple Exponential Smoothing
Rumus SES:
- \(F_t\): forecast periode ke-\(t\)
- \(A_{t-1}\): data aktual periode sebelumnya
- \(F_{t-1}\): forecast periode sebelumnya
- \(\alpha\): konstanta smoothing dengan nilai antara 0 dan 1
Nilai alpha yang lebih besar membuat forecast lebih responsif terhadap data terbaru, sedangkan alpha yang lebih kecil menghasilkan forecast yang lebih halus.
#01 Data Aktual
Contoh menggunakan data penjualan selama 10 bulan.
| Periode | Penjualan Aktual |
|---|---|
| Januari | 120 |
| Februari | 128 |
| Maret | 133 |
| April | 129 |
| Mei | 138 |
| Juni | 142 |
| Juli | 145 |
| Agustus | 149 |
| September | 153 |
| Oktober | 158 |
#02 Menentukan Nilai Alpha
Pada contoh ini digunakan:
sehingga:
Nilai alpha pada contoh ditetapkan untuk memudahkan pembelajaran. Pada implementasi nyata, alpha dapat diuji menggunakan beberapa nilai kemudian dipilih berdasarkan error forecasting yang paling kecil.
#03 Menentukan Forecast Awal
Karena belum terdapat forecast sebelumnya, nilai forecast awal ditetapkan sama dengan data aktual pertama.
Jadi forecast Januari adalah 120.
#04 Menghitung Forecast Setiap Periode
Forecast periode berikutnya dihitung menggunakan aktual periode sebelumnya dan forecast periode sebelumnya.
Contoh Perhitungan Forecast Februari
Sebelum melihat tabel, berikut cara mendapatkan forecast Februari:
Contoh Perhitungan Forecast Maret
Setelah forecast Februari diperoleh, forecast Maret dihitung menggunakan data aktual Februari dan forecast Februari:
Dengan cara yang sama, seluruh forecast dihitung seperti tabel berikut.
| Periode | Aktual | Forecast | Perhitungan |
|---|---|---|---|
| Januari | 120 | 120 | Forecast awal = aktual pertama |
| Februari | 128 | 120 | (0.3 × 120) + (0.7 × 120) |
| Maret | 133 | 122.4 | (0.3 × 128) + (0.7 × 120) |
| April | 129 | 125.58 | (0.3 × 133) + (0.7 × 122.4) |
| Mei | 138 | 126.606 | (0.3 × 129) + (0.7 × 125.58) |
| Juni | 142 | 130.0242 | (0.3 × 138) + (0.7 × 126.606) |
| Juli | 145 | 133.6169 | (0.3 × 142) + (0.7 × 130.0242) |
| Agustus | 149 | 137.0319 | (0.3 × 145) + (0.7 × 133.6169) |
| September | 153 | 140.6223 | (0.3 × 149) + (0.7 × 137.0319) |
| Oktober | 158 | 144.3356 | (0.3 × 153) + (0.7 × 140.6223) |
#05 Menghitung Error
Error dihitung dari selisih antara data aktual dan forecast:
Contoh Error Februari
Absolute Error:
Squared Error:
Absolute Percentage Error:
| Periode | Aktual | Forecast | Error | |Error| | Error² | APE |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Januari | 120 | 120 | - | - | - | - |
| Februari | 128 | 120 | 8 | 8 | 64 | 6.25% |
| Maret | 133 | 122.4 | 10.6 | 10.6 | 112.36 | 7.9699% |
| April | 129 | 125.58 | 3.42 | 3.42 | 11.6964 | 2.6512% |
| Mei | 138 | 126.606 | 11.394 | 11.394 | 129.8232 | 8.2565% |
| Juni | 142 | 130.0242 | 11.9758 | 11.9758 | 143.4198 | 8.4337% |
| Juli | 145 | 133.6169 | 11.3831 | 11.3831 | 129.5741 | 7.8504% |
| Agustus | 149 | 137.0319 | 11.9681 | 11.9681 | 143.2364 | 8.0323% |
| September | 153 | 140.6223 | 12.3777 | 12.3777 | 153.2074 | 8.09% |
| Oktober | 158 | 144.3356 | 13.6644 | 13.6644 | 186.7155 | 8.6483% |
#06 Menghitung MAE, MSE, dan MAPE
Mean Absolute Error (MAE)
Pada contoh ini:
8 + 10.6 + 3.42 + 11.394 + 11.9758 + 11.3831 + 11.9681 + 12.3777 + 13.6644 / 9 = 10.5315
Mean Squared Error (MSE)
64 + 112.36 + 11.6964 + 129.8232 + 143.4198 + 129.5741 + 143.2364 + 153.2074 + 186.7155 / 9 = 119.337
Mean Absolute Percentage Error (MAPE)
6.25% + 7.9699% + 2.6512% + 8.2565% + 8.4337% + 7.8504% + 8.0323% + 8.09% + 8.6483% / 9 = 7.3536%
| Metrik | Nilai |
|---|---|
| MAE | 10.5315 |
| MSE | 119.337 |
| MAPE | 7.3536% |
#07 Forecast Periode Berikutnya
Setelah seluruh periode dihitung, forecast untuk bulan berikutnya menggunakan aktual Oktober dan forecast Oktober.
Jadi prediksi penjualan untuk periode berikutnya adalah sekitar 148.43.
Ringkasan
Simple Exponential Smoothing menghitung forecast dengan menggabungkan data aktual terbaru dan forecast sebelumnya menggunakan parameter alpha. Pada contoh ini digunakan alpha 0.3 dan diperoleh forecast periode berikutnya sebesar 148.43.
Akurasi model contoh menghasilkan MAE 10.5315, MSE 119.337, dan MAPE 7.3536%.
FAQ Simple Exponential Smoothing
Apa fungsi nilai alpha?
Alpha menentukan seberapa besar bobot data terbaru dalam perhitungan forecast. Nilainya berada antara 0 dan 1.
Bagaimana memilih alpha terbaik?
Beberapa nilai alpha dapat diuji kemudian dibandingkan berdasarkan metrik error seperti MAE, MSE, atau MAPE. Alpha dengan error yang lebih kecil dapat dipilih.
Kapan SES cocok digunakan?
SES cocok untuk data deret waktu yang relatif stabil tanpa tren dan pola musiman yang kuat.
Apa perbedaan SES dan Moving Average?
Moving Average menggunakan rata-rata sejumlah periode terakhir, sedangkan SES memberikan bobot eksponensial yang lebih besar pada data terbaru.
Apakah SES cocok untuk data tren?
Jika data memiliki tren yang jelas, metode seperti Double Exponential Smoothing atau Holt's Linear Trend lebih sesuai dibanding SES sederhana.
Apakah SES dapat menangani pola musiman?
SES tidak dirancang untuk pola musiman. Data dengan tren dan musiman lebih sesuai menggunakan metode seperti Holt-Winters atau Triple Exponential Smoothing.
Referensi
- Hyndman, R. J. & Athanasopoulos, G. Forecasting: Principles and Practice. OTexts.
- Brown, R. G. (1959). Statistical Forecasting for Inventory Control. McGraw-Hill.
Source Code Forecasting SES
Berikut adalah beberapa source code yang menggunakan metode Simple Exponential Smoothing untuk forecasting.




